Kalau bericara tentang harapan, setiap manusia pasti mempunyai harapan dalam hidupnya masing-masing. Ada beberapa harapan yang saya miliki untuk tahun 2014:
1. Dapat menjadi manusia yang lebih baik dan lebih dewasa dalam menyikapi apapun yang terjadi dalam siklus kehidupan.
2. Dapat menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang tua, keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.
3. Lebih rajin dan taat dalam beribadah.
4. Lebih baik dalam menjaga kesehatan karena kesehatan itu mahal harganya.
5. Dapat mempertahankan nilai-nilai yang telah saya dapat, serta dapat menjaga kestabilan nilai dan meningkatkan nilai-nilai tersebut.
6. Dapat memenuhi target-target yang belum tercapai ditahun sebelumnya.
7. Lebih rajin, lebih fokus, dan lebih semangat dalam belajar.
8. Datang tepat waktu ke kampus dan tidak sering kesiangan lagi.
9. Lebih baik dalam manajemen waktu.
10. Lebih teliti dalam mengatur keuangan supaya tidak boros lagi dan bisa nabung sedikit-sedikit, lama kelamaan tabungannya jadi bukit deh.
11. Kursus bahasa asing dan tes-tes yang dapat menunjang kemampuan berbahasa.
12. Mengikuti lebih banyak seminar, workshop yang nantinya dapat bermanfaat dan memudahkan untuk dunia pekerjaan.
13. Tetap punya waktu untuk terus main bareng, jalan-jalan bareng liburan bareng, dan tetap terus samasama bereng sahabat-sahabat walupun sibuk.
Ini harapan-harapan saya untuk tahun 2014, semoga dapat terwujud. Amiiinnn :)
Senin, 06 Januari 2014
Rabu, 27 November 2013
MEMBEDAH LIRIK LAGU MANUSIA SETENGAH DEWA KARYA IWAN FALS
Lirik
Lagu Manusia Setengah Dewa
“Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan”
“Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan”
“Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti ku angkat engkau menjadi manusia
setengah dewa”
“Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau”
“Tegakkan hokum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti ku angkat engkau menjadi manusia
setengah dewa”
Makna
Lirik Lagu Manusia Setengah Dewa
“Wahai presiden kami yang baru, Kamu harus
dengar suara ini”
“Suara yang keluar dari dalam goa, Goa yang
penuh lumut kebosanan”
Makna Denotasi:
Bisa diartikan bahwa penyair menujukan lirik lagu
ini kepada presiden yang baru. Kata presiden bermakna kepala negara (bagi
negara yang berbentuk republik). Sedangkan kata “baru” bermakna belum
pernah dilihat sebelumnya, dan belum pernah didengar sebelumnya. Namun, kata
“baru” disini sebagai keterangan sifat dari kata “presiden“ berarti bahwa lagu
ini secara khusus ditujukan kepada presiden yang baru saja akan dilantik pada
saat lagu ini dirillis dalam album yang berjudul “Manusia Setengah Dewa”.
Sedangkan kata “suara” bermakna bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia
(seperti pada waktu bercakap–cakap, menyanyi, tertawa dan menangis).
Kata “goa” bermakna
gorong-gorong, liang, lubang, terowongan. Penulis tidak bisa bayangkan
bagaimana bisa Iwan Fals memilih kata gua sebagai sumber dari suara-suara yang
ingin presiden dengarkan. Kata “lumut” bermakna tumbuhan hijau atau kuning
kecil-kecil yang tumbuh banyak dan berkelompok membentuk bantalan (hamparan)
menyerupai beledu pada batu, kayu, tanah, atau tembok yang lembap
bryophyta; kulat. Sedangkan kata “kebosanan” bermakna hal bosan;
kejemuan.
Makna
Konotasi:
Kalimat “presiden yang baru” pada
lirik di atas sebenarnya belum secara pasti dan tegas ditujukan kepada orang
yang jelas. Karena lagu “Manusia Setengah Dewa” ini sudah terlebih dahulu
dirilis menjelang Pemilihan Umum (PEMILU) presiden dan wakil presiden pada 5
Juli 2004. Penulis menyatakan secara jelas bahwa lagu ini ditujukan kepada
semua calon presiden yang nantinya akan terpilih dan menjabat Presiden. Dalam
kenyataannya presiden yang akhirnya terpilih pada PEMILU 5 Juli 2004 adalah
Susilo Bambang Yudhoyono yang pada saat itu berpasangan dengan Yusuf Kalla.
Pengibaratan “suara yang keluar dari goa” suara tersebut bisa terdengar
namun hanya sebatas sayup-sayup yang tidak terdengar jelas dan sulit untuk
dipahami. Sehingga goa tersebut pun berubah menjadi goa yang dipenuhi lumut
karena tidak juga didengar suaranya yang akhirnya membosankan dan ditinggalkan.
“Walau hidup adalah permainan, Walau hidup
adalah hiburan”
“Tetapi kami tak mau dipermainkan, Dan kami
juga bukan hiburan”
Makna Denotasi:
Kata
“main” dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia berarti melakukan perbuatan untuk bersenang-senang. Jadi,
permainan adalah sesuatu yang digunakan untuk bermain; barang atau sesuatu yang
yang dipermainkan. Dalam hal ini permainan itu, Iwan Fals mengibaratkan hiduplah
yang menjadi permainan. Hiburan adalah sesuatu atau perbuatan yang dapat
menghibur hati (melupakan kesedihan, dan sebagainya).
Makna
Konotasi:
Didalam lirik walaupun Iwan Fals
mengibaratkan hidup sebagai permainan dan sebagai hiburan. Namun, ia tetap
tidak ingin kehidupan rakyat Indonesia dipermainkan dan dijadikan hiburan bagi
presdien, khususnya. “Walau hidup adalah permainan” merujuk pada bahwa Iwan
Fals mengibaratkan hidup di dunia adalah permainan. Seperti yang telah penulis
katakan di atas bahwa penulis merasa makna lirik ini bersifat sarkasme (Dalam
KBBI sarkasme bermakna (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti
hati orang lain, cemoohan atau ejekan kasar).
“Turunkan
harga secepatnya, Berikan kami pekerjaan”
“Pasti
ku angkat engkau menjadi manusia setengah dewa”
Makna
Denotasi:
Kata “turunkan” disini merujuk pada
kata “harga” yang mengartikan bahwa harga yang dimaksudkan pada lirik
tersebut adalah mahal. Oleh sebab itu, Iwan Fals menginginkan harga untuk
diturunkan secepatnya. Pekerjaan adalah barang apa yang dijadikan pokok
penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. Dewa adalah orang
yang diangan-angankan sebagai manusia halus yang berkuasa atas alam dan
manusia; orang atau sesuatu yang dipuja-puja.
Makna
Konotasi:
Kategori kata mahal memang
berbeda-beda pada setiap orang. Namun, kata mahal bisa digeneralisasikan
apabila dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan bagi sebagian besar
rakyat Indonesia sudah sulit untuk dipenuhi, maka dapat dikatakan “harga
mahal”. Dan kata “secepatnya” menunjukkan betapa penurunan harga tersebut
sangat diharapkan dan dibutuhkan oleh rakyat. “Berikan kami pekerjaan” merujuk
bahwa pada saat itu pekerjaan menjadi hal yang sulit untuk didapatkan. Lagu ini
dirilis sebelum PEMILU Presiden dan Wakil Presdien tahun 2004. Dengan kata
lain, apabila presiden yang baru ini berhasil menuruti permintaan rakyat, maka
rakyat akan mengangkatnya menjadi manusia setengah dewa.
“Masalah
moral masalah akhlak, Biar kami cari sendiri”
“Urus
saja moralmu urus saja akhlakmu”
Makna
Denotasi:
Kata “moral” bermakna ajaran tentang
baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban.
Sedangkan kata “akhlak” bermakna budi pekerti, kelakuan. Di dalam kamus
Tesaurus Bahasa Indonesia kata “moral” dan “akhlak” memiliki makna yang sama.
Makna
Konotasi:
Lirik ini meletakkan jelas bahwa
tugas presiden tidak termasuk megurusi masalah akhlak dan moral rakyat. Apabila
moral presiden itu sendiri sudah bagus maka moral rakyat pun akan bagus. Telah
dijelaskan juga di atas bahwa lirik ini menggambarkan kebebasan pada
masing-masing pribadi, baik itu rakyat ataupun presiden dalam mengurus
hal akhlak dan moral.
“Peraturan
yang sehat yang kami mau, Tegakkan hokum setegak-tegaknya”
“Adil
dan tegas tak pandang bulu, pasti ku angkat engkau menjadi manusia setengah
dewa”
Makna
Denotasi:
Kata “peraturan” bemakna
tatatan (petunjuk, kaidah, ketentuan) yang dibuat untuk mengatur. Sedangkan
kata “sehat” yang diartikan sebagai keterangan untuk peraturan merujuk pada
keadaan yang berjalan dengan baik atau sebagaimana mestinya, seperti keuangan,
ekonomi, politik, dsb. Tegak bermakna lurus kearah atas. Sedangkan hukum dalam
bermakna peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang
dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas. Adil bermakna
tidak berat sebelah, tidak memihak. Sedangkan tegas bermakna jelas dan
terang benar, nyata.
Makna
Konotasi:
Hukum di Indonesia harus ditegakkan
dan harus dijalankan secara adil. Itulah kunci agar kemakmuran rakyat Indonesia
tercapai. Lirik “tak pandang bulu” berarti hukum dilaksanakan dan dijalankan
tanpa melihat siapa dan latar belakang seseorang saat proses penegakan hukum.
Di dalam kehidupan politik Indonesia, Presiden Indonesia Susilo Bambang
Yudhoyono sempat diuji rasa keadilan, ketegasan dan tidak pandang bulunya dalam
kasus korupsi yang dilakukan oleh besannya sendiri, yaitu Aulia Pohan.
Manusia setengah dewa merupakan
makhluk khayalan di dalam mitos yang memiliki kehebatan dan kekuatan di dalam
dirinya yang dapat digunakan untuk menolong orang disekelilingnya. Hal ini lah
yang dimaksud oleh Iwan Fals dengan ide “manusia setengah dewa”. Apabila
presiden dapat memenuhi semua permintaan rakyat pada lirik lagu manusia
setengah dewa ini pasti presiden tersebut memiliki kekuatan seperti makhluk
khayalan pada cerita mitos.
Kesimpulan
Lirik lagu “Manusia Setengah Dewa”
mengandung makna yang merepresentasikan kehidupan politik di Indonesia,
khususnya Presiden. Lagu ini merupakan lagu yang dirilis menjelang
Pemilihan Umum, yang dirilis menjelang Pemilihan Umum Presiden tahun 2004.
Lirik lagu “Manusia Setengah Dewa” secara langsung ditujukan kepada presiden
yang akan terpilih pada Pemilihan Umum Presiden tahun 2004, dalam hal ini yaitu
Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, lirik lagu tersebut masih bisa digunakan
dalam merepresentasikan kehidupan presiden dan wakil rakyat (anggota DPR) pada
saat sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan politik di Indonesia,
khususnya perilaku presiden dan wakil rakyat tidak banyak berubah, karena
hal-hal yang dikritik pada tahun 1987 dan 2004 masih bisa digunakan pada masa
sekarang.
Sabtu, 23 November 2013
BIOGRAFI PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA PANGERAN DIPONEGORO
Pangeran
Dipanegara juga sering di eja Diponegoro
(lahir di Yogyakarta,
11 November
1785 dan meninggal di Makassar,
Sulawesi
Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun)
adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro
terkenal karena memimpin Perang
Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah
Hindia-Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling
besar dalam sejarah Indonesia.
Asal-usul
Dipanegara
Dipanegara adalah putra sulung Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram
di Yogyakarta.
Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan
nama Mustahar dari seorang selir
bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa
ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan.
Pangeran Dipanegara bernama kecil Raden
Mas Antawirya.
Menyadari kedudukannya sebagai putra
seorang selir, Dipanegara menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, untuk mengangkatnya menjadi
raja.
Dipanegara lebih tertarik pada
kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo
tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo
daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana
V (1822)
dimana Dipanegara menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi
Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari
dipegang oleh Patih Danureja bersama
Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Dipanegara.
Riwayat
perjuangan
Perang
Diponegoro berawal ketika pihak Belanda
memasang patok di tanah milik Dipanegara di desa Tegalrejo.
Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak
menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan
pembebanan pajak.
Sikap Dipanegara yang menentang Belanda
secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Dipanegara
menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong.
Saat itu, Dipanegara menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan
menghadapi kaum kafir.
Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Dipanegara membawa pengaruh
luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta,
Kyai Maja, ikut bergabung
dengan pasukan Dipanegara di Goa Selarong.Perjuangan Pangeran Dipanegara ini
didukung oleh S.I.S.K.S. Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya
Bupati Gagatan.
Selama perang ini kerugian pihak
Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara
terus diupayakan Belanda untuk menangkap Dipanegara. Bahkan sayembara pun
dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa
menangkap Dipanegara. Sampai akhirnya Dipanegara ditangkap pada 1830.
Perang
Diponegoro
Pertempuran terbuka dengan pengerahan
pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri yang sejak perang Napoleon
menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal di kedua belah
pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan
desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga
bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam
harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula
sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain
untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan
dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara
peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan
menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi
mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan
menjadi berita utama karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun
melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi
selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan para senopati menyadari sekali
untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim
penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan
senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan
mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan “musuh
yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa
pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan
mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka
bergerak di desa dan kota menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota
keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah
komando pangeran Dipanegara. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan
tetap berjuang melawan Belanda
Pada puncak peperangan, Belanda
mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah
terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa
Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut
kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang
dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka, maupun metoda
perang gerilya yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan.
ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang
memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini
juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf melalui insinuasi dan
tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang
terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi dimana kedua
belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan
kelemahan lawannya.
Tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap
Dipanegara dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Dipanegara
terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan,
ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot
Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal
De Kock berhasil menjepit pasukan Dipanegara di Magelang. Di sana, Pangeran
Dipanegara menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota
laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Dipanegara ditangkap dan diasingkan ke
Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam
tanggal 8 Januari 1855.
Perang melawan penjajah lalu
dilanjutkan oleh para putera Pangeran Diponegoro. Pangeran Alip atau Ki Sodewo
atau bagus Singlon, Diponingrat, diponegoro Anom, Pangeran Joned terus
melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis. Empat Putera Pangeran Diponegoro
dibuang ke Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu
juga Ki Sodewo.
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan
bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia
sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang
Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut
separuhnya. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Dipanegara dianggap
pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke
Kraton, sampai kemudian Sri Sultan HB IX memberi amnesti bagi keturunan
Dipanegara, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai
Dipanegara kala itu. Kini anak cucu Dipanegara dapat bebas masuk Kraton,
terutama untuk mengurus Silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal
Hendrik Merkus de Kock tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830),
karya Nicolaas Pieneman.
Penghargaan
sebagai Pahlawan
Sebagai penghargaan atas jasa
Diponegoro dalam melawan penjajahan. Di beberapa kota besar Indonesia terdapat
jalan Diponegoro. Kota Semarang sendiri juga memberikan apresiasi agar nama
Pangeran Diponegoro akan senantiasa hidup. Nama nama tempat yang menggunakan
nama beliau antara lain Stadion Diponegoro, Jalan diponegoro, Universitas Diponegoro, Kodam IV
Diponegoro. Juga ada beberapa patung yang dibuat, patung Diponegoro di Undip
Pleburan, patung Diponegoro di Kodam IV Dipanegara serta di pintu masuk Undip
Tembalang.
Pemerintah Republik Indonesia pada masa
pemerintahan Presiden Soekarno pada tanggal 8 Januari tahun 1955 pernah
menyelenggarakan Haul Nasional memperingati 100 tahun wafatnya Pangeran
Diponegoro, sedangkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional diperoleh Pangeran
Diponegoro pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973.
Penghargaan tertinggi justru diberikan oleh Dunia, pada
21 Juni 2013 Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya
(UNESCO) menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of
the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh
Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada
1832-1833. Babad ini bercerita mengenai kisah hidup Pangeran Diponegoro yang
memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo.
Langganan:
Postingan (Atom)